Tragedi Longsor di Pacet Kronologi Sebuah Bencana
-Baca Juga
Hujan deras mengguyur lereng Gunung Welirang sejak dini hari Kamis, 3 April 2025. Angin bertiup kencang, membawa kabut tebal yang menyelimuti pegunungan. Visibilitas sangat terbatas, membuat perjalanan di jalur tersebut semakin berbahaya. Meskipun demikian, sebuah keluarga besar dari Desa Kloposepuluh, Sidoarjo, tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan silaturahmi Lebaran mereka menuju Kota Batu. Masjid Zatno Setio mengemudikan mobil Innova Reborn abu-abu, didampingi istrinya, Rani Anggraeni, kedua anaknya, Syahrul dan Putri, serta orang tuanya, H. Wahyudi dan Hj. Jainah, dan Ibu Saudah, adik ipar ibunya Rani. Suasana di dalam mobil dipenuhi canda dan tawa, namun diiringi kekhawatiran akan kondisi cuaca yang buruk. Jalanan yang biasanya ramai, kini tampak lengang dan basah kuyup, tergenang air di beberapa titik. Kondisi jalan yang sudah mulai tergerus air hujan dan rapuh karena erosi semakin parah akibat hujan deras yang terus menerus mengguyur.
Sekitar pukul 11.30 WIB, ketika mereka melintasi Jalan Raya Sumber Brantas, Pacet, kawasan Cangar, Mojokerto, bencana terjadi. Tanah di sisi jalan amblas. Hujan deras dan angin kencang telah melemahkan struktur tanah, menyebabkan longsor yang dahsyat. Innova yang mereka tumpangi terjerembab ke jurang yang dalam, tertimbun tanah dan bebatuan yang longsor dari tebing di sisi jalan yang curam. Hujan semakin deras, menambah kepanikan. Air bah yang membawa material longsoran ikut menyeret kendaraan mereka ke dasar jurang. Tujuh penumpang Innova, Masjid, Rani, Syahrul, Putri, H. Wahyudi, Hj. Jainah, dan Ibu Saudah, menjadi korban dalam peristiwa tragis ini.
Di lokasi yang sama, sebuah mobil pick-up Grand Max putih juga menjadi korban longsor. Fitria Hanyani, Ahmad Fiki Muzaki, dan Mikaila, putri mereka, turut menjadi korban. Kondisi jalan di sekitar lokasi longsor memang dikenal rawan, terutama saat musim hujan dengan intensitas tinggi.
Kabar duka ini sampai ke Desa Kloposepuluh, Sidoarjo. Sumardi, Kepala Desa, segera bergegas ke Mojokerto. Di RS Sumberglagah Pacet, ia menemukan jenazah keluarga dari Trawas yang juga menjadi korban longsor. Selanjutnya, informasi dari Basarnas membawanya ke RS Batu Bhayangkara, tempat jenazah keluarga Masjid ditemukan.
Duka menyelimuti Desa Kloposepuluh. Tujuh nyawa telah pergi, meninggalkan kesedihan mendalam. Namun, semangat gotong royong masyarakat Desa Kloposepuluh tetap menyala. Mereka saling menguatkan dan membantu keluarga yang ditinggalkan. Operasi pencarian dan evakuasi yang melibatkan Basarnas dan berbagai instansi terkait berjalan lancar, dan semua korban telah ditemukan.
Setelah semua korban berhasil dievakuasi, rapat koordinasi akan digelar di Pemkab Mojokerto. BMKG, Basarnas, Dinas PUPR, kepolisian, dan berbagai pihak terkait akan membahas kewaspadaan bencana dan menentukan langkah-langkah perbaikan, termasuk evaluasi kondisi jalan dan upaya pencegahan longsor di masa mendatang. Tragedi ini menjadi pelajaran berharga, mendorong langkah-langkah pencegahan bencana yang lebih efektif, dan menghindarkan kejadian serupa di masa depan. Semoga keluarga korban diberikan ketabahan dan kekuatan. Semoga arwah mereka diterima di sisi Allah SWT.
Writer Riendr
Editor Van Gan