Sugianto Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Yeongdeok-gun
-Baca Juga
Di sebuah desa kecil yang tenang bernama Haeundae, terletak di wilayah pesisir Yeongdeok-gun, Provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan, nama Sugianto (31), seorang Warga Negara Indonesia (WNI), bersinar terang. Bukan karena kekayaan atau kedudukan, melainkan karena keberanian dan kepedulian luar biasanya yang menyelamatkan 60 nyawa dalam peristiwa kebakaran hutan dahsyat pada Minggu, 30 Maret 2025. Desa Haeundae, yang dikenal dengan keindahan pemandangan lautnya dan kehidupan nelayan yang sederhana, menjadi saksi bisu atas peristiwa heroik ini. Kehidupan di desa ini, yang didominasi oleh rumah-rumah tradisional Korea dengan atap genteng berwarna abu-abu, tiba-tiba berubah mencekam saat api melalap hutan di lereng bukit yang mengelilingi desa. Bau asap dan suara gemuruh api menjadi momok menakutkan bagi penduduk yang sebagian besar sudah lanjut usia. Namun, di tengah kepanikan tersebut, keberanian Sugianto muncul sebagai cahaya harapan.
Sebelum peristiwa heroik tersebut, Sugianto menjalani kehidupan sederhana sebagai nelayan di pelabuhan kecil Choryang di Desa Haeundae. Ia datang ke Korea Selatan tiga tahun lalu, meninggalkan istri dan anak berusia lima tahun di Indonesia, demi masa depan yang lebih baik. Meskipun rindu keluarga selalu menghantuinya, ia bekerja keras dan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Keuletannya sebagai nelayan di tengah cuaca tak menentu dan persaingan ketat, diimbangi dengan kebaikan hati yang tulus. Ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk keluarga di tanah air, dan aktif berbaur dengan warga desa. Keramahan dan kesediaannya membantu, dari memperbaiki perahu hingga membantu pekerjaan rumah tangga warga lanjut usia, membuatnya disayangi dan dianggap sebagai bagian dari keluarga. Kemampuan berbahasa Korea yang fasih semakin mempererat hubungannya dengan masyarakat setempat, yang sebagian besar juga bekerja sebagai nelayan di pelabuhan Choryang.
Pada Minggu malam, 30 Maret 2025, ketika api melalap hutan di lereng bukit yang mengelilingi Desa Haeundae, keakraban Sugianto dengan warga desa menjadi kunci keberhasilan evakuasi. Ia mengenal setiap rumah dan penghuninya, sehingga mampu mengkoordinasikan proses penyelamatan dengan efisien dan efektif. Penguasaan bahasa Korea dan pemahaman kondisi geografis desa membantunya menentukan jalur evakuasi yang paling aman, melewati jalan-jalan sempit di antara rumah-rumah dan menuju ke tempat evakuasi darurat yang telah ditentukan di Balai Desa Haeundae. Dengan sigap, ia berlari dari rumah ke rumah, membangunkan warga, dan membantu mereka mengungsi. Ia tak gentar menghadapi kobaran api yang membesar, fokusnya hanya pada keselamatan warga. Enam puluh nyawa berhasil diselamatkan berkat keberanian dan kecepatan aksinya.
Setelah api berhasil dipadamkan, reaksi masyarakat terhadap Sugianto sangat luar biasa. Warga Desa Haeundae, yang sebagian besar telah diselamatkan olehnya, menyatakan rasa terima kasih yang mendalam. Mereka memuji keberanian dan kepeduliannya yang telah menyelamatkan nyawa mereka. Banyak yang memberikan hadiah dan ucapan terima kasih kepada Sugianto. Sebuah upacara kecil diadakan di Balai Desa Haeundae untuk memberikan penghargaan kepada Sugianto atas jasanya. Kepala Desa Haeundae, Baek Seung-jun, menyatakan kekagumannya terhadap keberanian dan kepedulian Sugianto, dan menyebutnya sebagai pahlawan desa. Kisah Sugianto juga tersebar luas di media sosial Korea Selatan, mendapat pujian dari netizen yang terharu dengan tindakan heroiknya. Media Indonesia juga memberitakannya, membuat masyarakat Indonesia bangga atas prestasi Sugianto. Banyak yang berharap Sugianto mendapatkan penghargaan atas jasanya, bahkan ada yang mengusulkan agar ia mendapatkan kewarganegaraan Korea. Istri Sugianto di Indonesia juga menghubungi Sugianto, menyatakan kebanggaannya atas tindakan suaminya. Sugianto sendiri merasa terharu atas semua perhatian yang diterimanya, dan menyatakan rasa syukurnya karena semua warga desa selamat. Ia merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat Desa Haeundae
Kronologi Kejadian:
Kronologi kejadian yang melibatkan Sugianto, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi pahlawan di Desa Yeongdeok-gun, Korea Selatan:
Kehidupan Sugianto di Korea Selatan: Sugianto datang ke Korea Selatan tiga tahun lalu untuk mencari nafkah yang lebih baik. Ia meninggalkan istri dan anak berusia lima tahun di Indonesia. Ia bekerja sebagai nelayan dan cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Sugianto dikenal sebagai pekerja keras dan selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk keluarga di Indonesia. Ia aktif berbaur dengan warga sekitar dan disayangi oleh penduduk desa.
Sugianto sering membantu warga dalam berbagai hal, mulai dari memperbaiki perahu nelayan hingga membantu pekerjaan rumah tangga warga yang sudah lanjut usia. Ia fasih berbahasa Korea dan sering bercanda dengan warga setempat. Sugianto juga ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial di desa, seperti kerja bakti membersihkan lingkungan.
Kebakaran Hutan di Desa Yeongdeok-gun: Pada Minggu malam, 30 Maret 2025, api melalap hutan di Desa Yeongdeok-gun.
Sugianto, yang mengenal setiap rumah dan penghuninya, menyadari bahaya yang mengintai. Ia berlari dari rumah ke rumah, membangunkan warga yang tertidur pulas.
Sugianto berteriak, "Nek, ada kebakaran di gunung! Kita harus segera mengungsi!". Ia bersama kepala desa, Yoo Myeong-shin, berlari menyelamatkan satu per satu warga, mengangkat mereka yang lemah, membantu yang kesulitan. Enam puluh nyawa berhasil diselamatkan berkat keberanian dan kecepatan aksinya.
Reaksi Masyarakat terhadap Sugianto: Media Korea Selatan ramai-ramai memberitakan aksi heroik Sugianto.
Judul-judul berita seperti "Orang Asing Gendong Nenek di Yeongdeok, Tempat Terjadinya Kebakaran Hutan... Ada Pahlawan Tersembunyi," menunjukkan betapa besarnya dampak tindakan Sugianto. Ia dipuji sebagai pahlawan, sebuah gelar yang pantas ia sandang.
Kisah Sugianto viral, tak hanya di Korea Selatan, tetapi juga di Indonesia. Netizen Indonesia bangga dengan prestasi Sugianto, seorang TKI yang rela meninggalkan istri dan anak berusia lima tahunnya demi bekerja di negeri orang, namun tetap menunjukkan rasa kemanusiaan yang luar biasa. Komentar-komentar pujian membanjiri media sosial, banyak yang berharap Sugianto mendapatkan kewarganegaraan Korea sebagai penghargaan atas jasanya.
Sugianto sendiri merasa bangga atas apa yang telah dilakukannya. Ia menyatakan, "Saya sangat mencintai Korea. Terutama penduduk desa yang sudah seperti keluarga bagi saya."
Sugianto juga mengaku mendapat telepon dari istrinya yang bangga padanya. Ia menambahkan, "Saya merasa bangga karena tidak ada yang terluka oleh kebakaran hutan."
Kisah Sugianto adalah bukti bahwa kebaikan dan keberanian tak mengenal batas negara. Ia adalah contoh nyata seorang pahlawan, bukan hanya bagi warga Yeongdeok-gun, tetapi juga bagi Indonesia. Kisahnya menginspirasi kita semua untuk selalu berani berbuat baik dan membantu sesama, kapan pun dan di mana pun kita berada.
Writer Riendr
Editor Van Gan