Kerukunan Antarumat Beragama di Salatiga: Lebih dari Sekadar Slogan ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Kerukunan Antarumat Beragama di Salatiga: Lebih dari Sekadar Slogan

-

Baca Juga

Kabupaten Salatiga Jawa Tengah toleransi dan Kerukunan Umat Beragama. Perbedaan Agama Semakin Menguatkan Kenyamanan, Keamanan dan Pembangunan Kabupaten Salatiga.


Dusun Thekelan,  di  tengah  keindahan  alam  Jawa  Tengah,  menjadi  saksi  bisu  kebersamaan  antarumat  beragama  yang  terjalin  erat  dalam  Hari Raya Idul  Fitri”.

Salatiga, Kota kecil di Jawa Tengah,  menunjukkan kepada Indonesia sebuah potret kerukunan antarumat beragama yang bukan sekadar slogan, melainkan realitas yang terwujud dalam tindakan nyata.  Kehidupan bermasyarakat di Salatiga  mencerminkan  keharmonisan yang telah terjalin  selama bertahun-tahun,  dibangun bukan atas dasar paksaan, tetapi atas dasar kesadaran dan  kepekaan  masing-masing individu.  Contoh nyata  terlihat  jelas  dalam berbagai  peristiwa dan  aktivitas  kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh yang paling  menonjol adalah Hari Raya Idul Fitri 1446 H/2025 di Dusun Thekelan, Desa Batur.  Bukan hanya ucapan selamat lisan,  warga  beragama Buddha dan Kristen secara aktif menunggu dengan tertib di dekat masjid dimana umat Islam sedang menjalankan ibadah shalat Hari Raya Idhul Fitri. Mereka memberikan ucapan Selamat Hari Raya Idhul Fitri. Malamnya mengunjungi rumah-rumah warga Muslim, membawa bingkisan kecil sebagai tanda silaturahmi.  Ibu Maria, seorang warga Kristen,  menceritakan kebiasaan keluarganya mengunjungi tetangga muslim, Pak Budi, setiap tahunnya untuk  mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri dan berbagi cerita.  Aksi ini bukan kejadian yang terisolasi, melainkan refleksi dari praktik toleransi yang telah mendarah daging di masyarakat Kota Salatiga.  Hal ini menunjukkan bahwa  perbedaan keyakinan  tidak menghalangi  terjalinnya  hubungan  yang  harmonis dan  saling  menghormati.

Kerukunan  ini  juga  terlihat  jelas  dalam  perayaan Natal di Gereja Santo Yosef.  Umat muslim dari lingkungan sekitar  turut membantu pengamanan dan kebersihan gereja.  Pak Amin, seorang tokoh masyarakat muslim, menjelaskan bahwa partisipasi ini merupakan bentuk  komitmen untuk menciptakan suasana kondusif bagi semua warga, tanpa memandang perbedaan agama.  Kolaborasi antarumat beragama juga terlihat di sekolah-sekolah, di mana siswa dari berbagai agama berkolaborasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, memperkaya pemahaman dan saling menghargai sejak usia dini.

Lebih jauh lagi,  partisipasi warga non-muslim dalam pembangunan Masjid Agung Salatiga menunjukkan  semangat kebersamaan yang  luar biasa.  Mereka  turut bergotong royong, menyediakan makanan dan minuman bagi para pekerja.  Bahkan di pasar Rejomulyo, pedagang dari berbagai agama berinteraksi dengan harmonis, saling membantu dan bertukar informasi, menciptakan iklim ekonomi yang inklusif dan saling menguntungkan.

Keberhasilan Salatiga dalam menciptakan kerukunan antarumat beragama  merupakan  teladan bagi daerah lain di Indonesia.  Salatiga membuktikan bahwa keberagaman  bukanlah  sumber perpecahan,  melainkan kekuatan yang dapat  membangun masyarakat yang damai dan sejahtera.  Kerukunan  antarumat  beragama di Salatiga  bukan  sekadar  cita-cita,  melainkan  kenyataan  yang  terwujud  dalam  tindakan  nyata  dan  berkelanjutan.  Ini  adalah  warisan  berharga  yang  harus  dijaga  dan  dikembangkan  untuk  generasi  mendatang.



Writer Riendr 

Editor Van Gan 







Mungkin Juga Menarik × +
VIDEOS
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode