Ironi di Tengah Gemuruh Festival Maja Tirta dan Bayang-Bayang Banjir Mojokerto ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Ironi di Tengah Gemuruh Festival Maja Tirta dan Bayang-Bayang Banjir Mojokerto

-

Baca Juga

GEBYAR FESTIVAL MAJA TIRTA 2025 KOTA MOJOKERTO. Lokasi Jembatan REJOTO, Sabtu 22 Maret 2025



Festival Maja Tirta 2025, sebuah perayaan meriah yang mengangkat air sebagai sumber kehidupan di Kota Mojokerto, menyimpan ironi yang menyayat hati.  Di tengah gemerlap perayaan, kenangan banjir dahsyat Januari-Februari 2025 masih terasa begitu nyata.  Banjir yang melumpuhkan kehidupan warga selama lebih dari dua minggu, meninggalkan luka mendalam dan mempertanyakan kesiapan kota menghadapi bencana alam.

Kecamatan Prajurit Kulon dan Kranggan menjadi saksi bisu kerusakan yang ditimbulkan.  Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, dan roda ekonomi lumpuh total.  Bahkan Kecamatan Magersari pun ikut terdampak, menunjukkan betapa luasnya bencana yang melanda.  Bayangkan penderitaan warga yang berjuang melawan air bah, sementara mereka merayakan pentingnya menjaga kelestarian air yang sama.  Air, yang seharusnya menjadi berkah, justru berubah menjadi petaka yang menghancurkan kehidupan mereka.  Bencana ini bukanlah sekadar data statistik, melainkan tragedi kemanusiaan yang menuntut perhatian serius.

SEGEL PENYITAAN KEJAKSAAN NEGERI KOTA MOJOKERTO DI KAPAL MAJAPAHIT HILANG JELANG FESTIVAL MAJA TIRTA 2025

Kegagalan antisipasi dan mitigasi bencana menimbulkan pertanyaan besar tentang keseriusan pemerintah kota.  Apakah infrastruktur dan sistem peringatan dini yang ada sudah memadai untuk menghadapi intensitas hujan yang semakin ekstrem?  Apakah edukasi dan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sumber daya air sudah optimal?  Pertanyaan-pertanyaan ini mendesak untuk dijawab dengan tindakan nyata, bukan hanya janji-janji politik.

Kerusakan Di Dalam Replika Kapal Majapahit Makin Parah Diduga Dirusak

Festival Maja Tirta, tanpa diiringi aksi nyata untuk mengatasi akar masalah banjir, terasa menjadi simbol kosong bagi warga yang menderita.  Perbaikan infrastruktur di daerah rawan banjir menjadi urgensi utama.  Momentum perayaan ini harus menjadi titik balik,  transformasi dari perayaan seremonial menjadi perubahan nyata yang melindungi rakyatnya.  Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sumber daya air, peningkatan kapasitas mitigasi bencana, dan  partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan untuk membangun Mojokerto yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Penderitaan warga yang terdampak banjir harus menjadi pendorong utama untuk melakukan perubahan.  Bukan hanya memperbaiki kerusakan yang ada, tetapi juga membangun sistem yang mampu mencegah bencana serupa di masa depan.  Ini membutuhkan komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait untuk menciptakan Mojokerto yang lebih siap menghadapi tantangan perubahan iklim dan bencana alam.  Festival Maja Tirta seharusnya menjadi momentum untuk merefleksikan hal tersebut dan menjadi tonggak awal pembangunan yang berkelanjutan dan berpihak pada rakyat.



Writer Dion 

Editor Djose 

Mungkin Juga Menarik × +
VIDEOS
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode