Dari Reruntuhan Menuju Harapan: Kisah Bapak Erik Muslimin dan Desa Mojoranu
-Baca Juga
Senyum Bapak Erik Muslimin (48), warga Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, merepresentasikan lebih dari sekadar kebahagiaan semata. Senyum itu adalah cerminan ketahanan jiwa, keuletan menghadapi cobaan, dan harapan yang tetap menyala di tengah keterbatasan. Rumahnya, yang hancur lebur disapu angin puting beliung pada Februari 2025, kini berdiri kokoh kembali, berkat uluran tangan seorang pengusaha yang peduli melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). "Saya tidak menyangka rumah saya bisa dibangun kembali," ujar Bapak Erik, suaranya bergetar haru. Kisah Bapak Erik Muslimin bukan hanya sekadar kisah pembangunan rumah, melainkan juga refleksi kondisi sosial ekonomi dan infrastruktur di Desa Mojoranu.
Bapak Erik Muslimin Menyalakan Lampu Rumah Barunya
Rumah baru Bapak Erik Muslimin, berukuran 4,5 x 12,5 meter persegi terdiri dari dua kamar tidur, dapur, dan sebuah ruangan tambahan. Lantai keramik yang baru menggantikan lantai lama yang telah lapuk, memberikan nuansa bersih dan segar. Listrik 900 watt yang masuk ke rumahnya menjadi simbol kemajuan, namun juga menggarisbawahi kenyataan bahwa warga masyarakat ini masih termasuk dalam kategori membutuhkan bantuan. Ketiadaan fasilitas sanitasi pribadi, seperti kamar mandi dan WC, memaksa Bapak Erik Muslimin untuk sementara bergantung pada kebaikan keluarga lain. "Inginnya beli Sanyo dan bor sumur, tapi saya belum punya uang," ucapnya, sebuah pernyataan sederhana yang menyimpan beban dan harapan. "Setidaknya, rumahnya kembali bisa ditempati dan punya tempat tidur yang layak," tambahnya dengan senyum lega.
Bapak Erik Muslimin
Desa Mojoranu sendiri, dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan mayoritas warganya berprofesi sebagai petani dan pengrajin sepatu sandal rumahan, menunjukkan potret kehidupan masyarakat pedesaan yang penuh tantangan. Kehidupan yang serba terbatas ini diperparah oleh kondisi infrastruktur yang kurang memadai. Saluran irigasi yang tak terawat dan minimnya fasilitas umum, seperti papan petunjuk arah dan gapura desa, menunjukkan betapa pembangunan infrastruktur masih jauh dari ideal. Ketiadaan gapura desa, misalnya, menunjukkan kurangnya perhatian terhadap identitas dan aksesibilitas desa tersebut. "Sulit bagi orang yang tidak tahu jalan untuk sampai ke sini," kata Bapak Erik, menjelaskan kesulitan akses ke desanya. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Kisah Bapak Erik Muslimin, yang dulunya bekerja serabutan dan kini berjualan kopi angkringan karena keterbatasan fisik, mencerminkan perjuangan keras masyarakat Desa Mojoranu untuk bertahan hidup. Usaha kecil-kecilan ini menjadi sumber penghidupan bagi dirinya dan keluarganya. "Berjualan kopi ini sudah cukup untuk bertahan hidup," tuturnya dengan penuh syukur. Ia adalah representasi dari banyak warga Desa Mojoranu yang gigih berjuang di tengah keterbatasan sumber daya dan infrastruktur yang kurang memadai
Rumah baru Bapak Erik Muslimin, yang dibangun dengan bantuan CSR, menjadi simbol harapan dan solidaritas. Namun, kisah ini juga menyoroti pentingnya pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan aspek kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Bukan hanya pembangunan fisik, melainkan juga pembangunan infrastruktur sosial dan ekonomi yang berkelanjutan, agar senyum Bapak Erik Muslimin dan warga Desa Mojoranu lainnya bukan hanya sesaat, melainkan terpancar abadi dari kehidupan yang lebih layak dan sejahtera. Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap sesama dan berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih baik.
Writer Dion
Editor Djose