Keindahan Tari Gandrung Menembus Batas Benua: Dian Novita, Duta Budaya Banyuwangi di Amerika ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Keindahan Tari Gandrung Menembus Batas Benua: Dian Novita, Duta Budaya Banyuwangi di Amerika

-

Baca Juga

Dian Novita Penari Gandrung Banyuwangi di Amerika Serikat saat Musim Salju 

Sebuah video viral memperlihatkan Dian Novita, seorang perempuan asal Banyuwangi yang kini tinggal di Wisconsin, Amerika Serikat, menari Gandrung di tengah hamparan salju.  Aksi menawan ini telah menarik perhatian publik dan menjadi bukti nyata pelestarian budaya Banyuwangi hingga ke mancanegara.

Dian, dengan bangga mengungkapkan asal-usulnya, "Ibu saya dari Lugonto, Bapak dari Tegal Dlimo. Saya lahir dan besar di Banyuwangi."  Meskipun telah menetap di Amerika sejak 2016 setelah menikah dengan warga setempat, kecintaannya pada budaya Banyuwangi tetap tak tergoyahkan.  "Dari kecil, sejak SD, memang sudah hobi menari," kenangnya.

Tari Gandrung, dengan gerakannya yang anggun dan ekspresif,  tampak begitu kontras namun harmonis dengan latar belakang salju yang dingin.  Video tersebut bukan hanya sekadar tarian, melainkan sebuah pernyataan yang kuat tentang identitas dan kecintaan Dian pada warisan budayanya.  Ia dengan sukses membawa keindahan Tari Gandrung, yang biasanya diiringi alunan gamelan Jawa, ke tengah budaya yang berbeda.  Suhu dingin Amerika tak mampu meredupkan semangatnya untuk melestarikan warisan leluhur.

Aksi Dian telah menuai banyak pujian dari warga Indonesia.  Banyak yang mengapresiasi dedikasinya dalam menjaga kelestarian budaya Banyuwangi di tengah kehidupan barunya di Amerika.  Video tersebut menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat Banyuwangi dan Indonesia, menunjukkan bahwa budaya kita mampu menembus batas geografis dan tetap relevan di era globalisasi.  Dian Novita, tanpa disadari, telah menjadi duta budaya Banyuwangi yang luar biasa, menyebarkan keindahan Tari Gandrung ke seluruh dunia.  Kisahnya menginspirasi kita semua untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa.

Tari Gandrung merupakan tarian tradisional khas Banyuwangi, Jawa Timur.  Tarian ini memiliki sejarah yang kaya dan merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Banyuwangi.

Sejarah Tari Gandrung

Asal-usul Tari Gandrung terkait erat dengan kepercayaan masyarakat Banyuwangi terhadap Dewi Sri, Dewi Padi.  Tarian ini awalnya dibawakan oleh para lelaki yang berdandan seperti perempuan, disebut "Gandrung Lanang".  Mereka menggunakan kendang sebagai alat musik utama. 

Pada awal abad ke-20, pengaruh Islam di wilayah Blambangan menyebabkan perubahan dalam tradisi Gandrung.  Tarian ini kemudian mulai dibawakan oleh perempuan.    Salah satu tokoh penting dalam sejarah Gandrung adalah seorang perempuan bernama Semi.  Semi, yang awalnya sakit, disembuhkan setelah melakukan ritual Seblang.  Setelah itu, ia menjadi penari Gandrung pertama yang perempuan 

Perkembangan Tari Gandrung

Sejak tahun 1970-an, banyak gadis muda yang bukan keturunan penari Gandrung sebelumnya mulai mempelajari tarian ini.  Tarian ini menjadi sumber mata pencaharian bagi mereka dan juga membantu mempertahankan eksistensi Gandrung 

Bentuk dan Makna Tari Gandrung

Tari Gandrung biasanya ditampilkan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari Gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju".    Tarian ini memiliki beberapa bagian, seperti "jejer", di mana penari menari sendiri atau berkelompok, dan "paju", di mana penari mendampingi tamu yang maju ke panggung untuk ikut menari

Tari Gandrung memiliki makna yang mendalam, melambangkan rasa syukur masyarakat Banyuwangi atas hasil panen dan juga sebagai bentuk penghormatan bagi para tamu.    Tarian ini juga memiliki nilai estetika yang tinggi, dengan gerakan yang anggun dan iringan musik yang khas.

Tari Gandrung merupakan warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Banyuwangi.  Tarian ini memiliki sejarah yang panjang dan kaya makna.  Melalui gerakannya yang anggun dan iringan musik yang khas, Tari Gandrung mampu memikat hati penonton dan menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat Banyuwangi

Perbedaan Tari Gandrung di masa lalu dan sekarang:

Penari:  Masa Lalu:  Gandrung biasanya ditarikan oleh lelaki yang berdandan seperti perempuan (Gandrung Lanang) atau oleh perempuan yang memiliki keturunan penari Gandrung.

Sekarang:  Gandrung lebih sering ditarikan oleh perempuan, dan tidak lagi terbatas pada keturunan penari.  Banyak gadis muda yang bukan keturunan penari Gandrung sebelumnya belajar dan menampilkan tarian ini.

Musik dan Alat Musik:  Masa Lalu:  Musik pengiring Gandrung lebih sederhana, biasanya menggunakan kendang sebagai alat musik utama.

Sekarang:  Musik pengiring lebih beragam, menggunakan alat musik gamelan, suling, kendang, dan alat musik modern seperti keyboard.  Ada juga tambahan alat musik lain seperti rebana, gong, dan saron.

Kostum:  Masa Lalu:  Kostum Gandrung lebih sederhana, umumnya menggunakan kain batik atau kain tenun dengan warna-warna gelap.

Sekarang:  Kostum lebih beragam, menggunakan kain dengan warna-warna cerah dan motif yang lebih ramai.  Ada juga tambahan aksesoris seperti gelang, kalung, dan anting.

Gerakan:  Masa Lalu:  Gerakan Gandrung lebih sederhana, dengan fokus pada gerakan tubuh bagian atas dan tangan.

Sekarang:  Gerakan lebih dinamis dan kompleks, melibatkan seluruh tubuh, termasuk gerakan kaki dan kepala.

Makna:  Masa Lalu:  Gandrung lebih fokus pada ritual keagamaan dan penghormatan kepada Dewi Sri.

Sekarang:  Gandrung masih mengandung makna spiritual, tetapi juga lebih bersifat hiburan dan pertunjukan, serta menjadi bagian penting dari pariwisata di Banyuwangi.

Perubahan-perubahan ini menunjukkan bahwa Gandrung terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman.  Meskipun mengalami perubahan, Gandrung tetap menjaga inti dan makna dari tarian ini, yaitu sebagai bentuk ekspresi budaya dan penghormatan terhadap tradisi.

Tari Gandrung tetap populer karena beberapa faktor utama:  Keindahan dan Uniknya:  Gerakan yang Anggun dan Ekspresif: Gerakan Gandrung yang khas, kombinasi gerakan tubuh bagian atas yang luwes dan ekspresi wajah yang penuh makna, memikat mata dan hati penonton.

Musik yang Menawan:  Iringan musik gamelan yang khas dan merdu, dipadukan dengan suara kendang yang menghentak, menciptakan suasana yang magis dan memikat.

Kostum yang Mencolok:  Kostum penari Gandrung yang berwarna cerah dan motifnya yang ramai, menambah semarak dan keindahan pertunjukan.

Makna dan Filosofi yang Mendalam: Penghormatan kepada Dewi Sri: Gandrung awalnya merupakan ritual keagamaan untuk menghormati Dewi Sri, dewi padi, menunjukkan rasa syukur atas hasil panen.

Simbol Keberuntungan dan Kesenangan:  Di masa kini, Gandrung melambangkan keberuntungan, kegembiraan, dan keramahan masyarakat Banyuwangi.

Peran Penting dalam Kebudayaan Banyuwangi:  Tradisi Lokal yang Kuat:  Gandrung merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya Banyuwangi, diwariskan dari generasi ke generasi.

Acara Ritual dan Hiburan:  Gandrung menjadi bagian penting dalam berbagai acara, seperti ritual keagamaan, perayaan panen, dan hiburan di pesta pernikahan.

Daya Tarik Pariwisata:  Destinasi Wisata Budaya:  Gandrung menjadi daya tarik wisata budaya yang penting di Banyuwangi, menarik wisatawan lokal dan mancanegara.

Promosi Budaya Banyuwangi:  Penampilan Gandrung di berbagai acara dan festival membantu mempromosikan budaya Banyuwangi ke tingkat nasional dan internasional.

Adaptasi dengan Zaman:  Perubahan dan Perkembangan:  Tari Gandrung telah mengalami beberapa perubahan dan perkembangan seiring berjalannya waktu, namun tetap mempertahankan esensinya.

Relevansi di Era Modern:  Tari Gandrung masih relevan di era modern, dengan penambahan unsur-unsur baru dan adaptasi dengan selera penonton zaman sekarang.

Secara keseluruhan, kombinasi keindahan, makna, dan relevansi budaya menjadikan Tari Gandrung tetap populer dan menjadi warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Banyuwangi dan Indonesia.



Penulis Dion 

Editor Djose 


Mungkin Juga Menarik × +
VIDEOS
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode